Dari seluruh sampel yang diproses, tim berhasil mengisolasi enam isolat mikroorganisme: tiga isolat aktinomiset, dua isolat bakteri non-aktinomiset, dan satu isolat khamir (yeast).
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa masing-masing jenis mikroorganisme tampak berasosiasi secara spesifik dengan jenis tanaman tertentu — sebuah tanda adanya hubungan ekologis yang mendalam antara mikroba dan inangnya.
Dengan mengidentifikasi dan memahami aktinomiset lokal, peneliti telah mengambil langkah penting menuju pertanian yang lebih berkelanjutan — bukan dengan memaksa lahan sulit untuk menjadi sesuatu yang bukan fitrahnya, melainkan dengan belajar dari dan bekerja bersama alam.
Peneliti menemukan di kedalaman 15 sentimeter tanah berbatu di bawah akar lamtoro dan pakis di bukit-bukit Gorontalo. Melalui penelitian ini juga ditemukan persahabatan antara akar dan bakteri.
Hasil penelitian telah dipublikasi di Biodiversitas Journal, Vol. 25 No. 3, Maret 2024, dengan judul “Diversity of actinomycetes on plant rhizosphere of karst ecosystem of Gorontalo, Indonesia.”
Para peneliti menyimpulkan, tumbuhan di ekosistem karst Gorontalo menunjukkan asosiasi spesifik dengan berbagai jenis mikroba di rizosfer. Bakteri aktinomisetes dan non-aktinomisetes, bahkan kelompok ragi ditemukan berasosiasi secara spesifik dengan jenis tumbuhan tertentu.




