Resolusi UNEA tidak mengikat secara hukum, namun dianggap sebagai langkah awal yang penting menuju kesepakatan lingkungan hidup global dan pembuatan kebijakan nasional.
Banyak diskusi di UNEA-6 diperkirakan akan fokus pada bagaimana krisis tiga planet ini memperparah kemiskinan dan memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin.
Para pemimpin berencana menggunakan Majelis ini untuk memperbarui seruan kemajuan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebuah cetak biru global untuk melindungi planet ini dan meningkatkan kesejahteraan.
Hanya 15 persen dari tujuan-tujuan tersebut, yang jatuh tempo pada tahun 2030, sudah sesuai rencana.
“Kita harus menemukan cara praktis untuk memajukan hak asasi manusia atas lingkungan yang sehat, yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan,” kata Leila Benali, menteri transisi energi Maroko dan presiden UNEA-6.
“Kita tahu bahwa ketika kita melindungi alam, kesehatan masyarakat akan meningkat. Ketika kita fokus pada solusi berkelanjutan terhadap krisis iklim, perekonomian kita akan menjadi lebih kuat.”
Tahun ini menandai peringatan 10 tahun UNEA. Sesi-sesi sebelumnya telah memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan lingkungan hidup global.
Pada tahun 2022, UNEA berakhir dengan negara-negara setuju untuk meluncurkan negosiasi mengenai instrumen global yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.




