Darilaut – Ada yang berbeda di perairan Torosiaje Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Akhir tahun 2025, dua pekan lalu, pada 30 hingga 31 Desember, ratusan perahu nelayan kecil berjejer kemudian berpencar untuk menangkap gurita di kawasan Teluk Tomini.
Nelayan berkumpul untuk berkah laut, merayakan pembukaan kawasan tangkap gurita yang telah ditutup sejak tiga bulan lalu.
Pagi itu, perairan Torosiaje nampak cerah, perahu nelayan dari berbagai sudut desa pesisir berhasil menangkap hampir setengah ton gurita.
Ritual Tiba Pina
Lokasi penangkapan gurita ini berada di perairan Pulau Besar, Pulau Torosiaje Kecil, dan Lana Besar Batuna atau Reef Batu Besar.
“Selama kita menerapkan praktik buka tutup, ini pertama kalinya kami panen, banyak sekali perahu sampai lebih dari 100 perahu yang tersebar di semua lokasi penutupan,” kata Ketua kelompok Sipakullong, Husain Onte, kepada Darilaut.id, Rabu 30 Desember 2025.
Sebelum berburu kutta −nama lokal gurita dalam bahasa Bajo− nelayan lebih dulu melaksanakan ritual adat Tiba Pina.

Ritual ini diyakini suku Bajo Torosiaje Gorontalo sebagai bentuk silaturahmi dan memohon keberkahan dengan leluhur di laut. Lalu melepas tanda larangan yang sudah mengapung di atas permukaan air selama tiga bulan lamanya.




