Jenis ini juga kerap ditemukan diperairan pantai, kemungkinan terkait dengan kelimpahan sumber makanannya di daerah tersebut yang berupa hewan-hewan planktonik.
Peneliti hiu, Fahmi, mengatakan, penggunaan nama Indonesia spesies basking shark, selalu diupayakan menggunakan yang khas agar tidak tertukar dengan jenis yang lain.
Apabila disebutkan hanya hiu raksasa, dikhawatirkan akan rancu dengan jenis hiu berukuran besar lain seperti hiu paus (whale shark) dan megamouth shark.
Hiu basking masuk dalam Daftar Merah (Red List) IUCN (The International Union for Conservation of Nature). Berdasarkan kategori status konservasi IUCN, hiu basking termasuk spesies yang rentan (Vulnerable).
Status rentan ini diberikan untuk spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di lautan (kehidupan dan alam liar) di masa yang akan datang.
Hiu basking memiliki ciri pada sirip dorsal pertama, besar, tinggi, tegak dan persegi. Kemudian sisip dada panjang dan agak lebar. Tidak ada tanda khusus.
Namun pada ekor, besar dengan cuping atas agak lebih kecil dari cuping bawah. Tidak ada tanda khusus pada sirip dada dan ekor.
Hiu basking memiliki Barcode Genetik pada daging (termasuk potongan sirip) dan dapat diidentifikasi melalui tes genetik. Informasi genetik untuk hiu berjemur tersedia di Genbank (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Genbank/) atau FishBol (http://www.barcodeoflife.org).





Komentar tentang post