“Hoaks tidak hanya didapatkan dari orang yang tidak kita percaya tetapi justru dari orang yang kita percaya. Dan itu menyulitkan untuk dibendung penyebarannya,” kata Syakir.
Penegak hukum siber Polda Kaltim ini bahkan merinci lebih jauh kerumitan proses menghadang hoaks.
“Dalam proses tahapan pemilu, peningkatan mis dan disinformasi (hoaks) sulit dibendung. Disamping perlu penelaahan awal, pengungkapan kasusnya kerap berliku-liku”.
Lalu apa kunci solusi yang mungkin dapat diupayakan? Menurut Syakir pilihan kolaborasi dapat menjadi alternatif solusi.
Felix pun menunjukan data bagaimana potensi hoax justru muncul dalam peristiwa tertentu. “Angka hoaks meroket justru di tahun politik 2019, dan menjadi rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir”.
Sifat preventif yang dapat dihadirkan oleh media adalah penerapan sebelas indikator Trustworthy dalam alur kerja jurnalistik, kata Felix.
Di penghujung diskusi, Andi Surayya mengingatkan bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi penyebar hoaks.
Jadi menjadi penting mengenal cara atau ciri-ciri hoaks agar dapat dihindari, kata Andi.
Dalam konteks pemilu, menurut Andi, kolaborasi para pihak, ditambah dengan pelibatan Trustworthy akan jadi resep jitu penangkal hoaks. Setidaknya, kita akan punya model pendekatan yang lebih kontekstual.




