Dengan bekal tersebut, selain produktivitas tangkap ikan bisa meningkat, serta meminimalkan tingkat kecelakaan di laut.
“Mewaspadai gelombangnya seperti sekarang ini merah, gelombang tinggi. Jadi, berhenti dulu, jangan berlayar, menunggu sampai warnanya berubah menjadi lebih muda, artinya gelombangnya lebih rendah,” ujar Dwikorita.
“Jadi tidak hanya meningkatkan produktivitas perikanan tangkap, jumlah kecelakaan juga menurun.”
Dwikorita mengatakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini digelar sebagai bentuk dukungan BMKG terhadap percepatan pembangunan ekonomi di sektor kelautan dan perikanan nasional.
Selama Pandemi Covid-19, terjadi penurunan signifikan terhadap produksi dan distribusi produk perikanan nasional, penurunan nilai pasar hasil laut, dan juga permintaan konsumen.
Kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara virtual, Anggota Komisi V DPR RI Novita Wijayanti, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, Kepala Pusat Metrologi Maritim Eko Prasetyo, Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Hartanto, Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Taruna Mona Rachman, serta Asisten Sekretariat Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesra Dian Setia Budi.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi nelayan, karena nelayan menjadi memiliki wawasan dan pengetahuan lebih sebelum mengikuti pelatihan ini,” ujar Novita.





Komentar tentang post