“Toro mencari istrinya yang disembunyikan di rumah kepala desa. Toro ditangkap, lalu diperiksa dan dipukul. Kemudian dibawa ke kantor polisi. Pada hari ketiga Toro kedapatan telah mati, lalu dibawa kepada keluarganya untuk dikuburkan.”
Mengenai kebenaran kisah Kasimu Motoro ini, guru besar di Universitas Negeri Gorontalo Prof. Dr Nani Tuloli, dalam Jurnal Kebudayaan Tanggomo (2011), mengatakan, cerita itu tak pernah terjadi.
Masing-masing wilayah di Gorontalo mengeklaim peristiwa itu terjadi di daerahnya. Ini yang menjadi letak keraguan dari kebenaran kisah itu.
Tahun 1990, Nani Tuloli menyusun Disertasi untuk meraih gelar doktoral di Universitas Indonesia, dengan judul “Tanggomo, salah satu ragam sastra lisan Gorontalo”.
Menurut Nani, satu-satunya fakta yang nampak jelas adalah kecerdasan pengisah Tanggomo, yang berhasil menyatakan imajinasinya itu hingga merasuk jauh pada benak ingatan setiap orang yang menyimak.

Kini kisah Kasimu Motoro yang dibawakan dalam seni teater monolog saat pertunjukan Lingkar Seni Wallacea, tetap menarik dan membuat pengunjung terdiam dan menyimak setiap adegan dan narasi.
Pesan moral dalam cerita Kasimu Motoro yang biasanya dengan iringan gambus oleh Ta Motanggomo, disampaikan melalui seni teater monolog.
Ini, seperti kata Dr Riana Diah, masyarakat dapat menerima hal baru.





Komentar tentang post