Kamis, November 5, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Mengubah Ikonis Gunung Bromo Menjadi Astrofotografi Kelas Dunia

redaksi
6 Mei 2022
Kategori : Berita
0
Mengubah Ikonis Gunung Bromo Menjadi Astrofotografi Kelas Dunia

Pemandangan Langit malam dan meteor Eta Aquarid di atas Gunung Bromo, Jawa Timur. FOTO: JUSTIN NG/EARTHSKY.ORG

Saatnya melihat sisa-sisa atau puing Komet Halley. Komet Halley membutuhkan waktu sekitar 76 tahun untuk mengelilingi Matahari.

Komet Halley terakhir terlihat pada tahun1986. Periode berikutnya komet ini nantinya akan terlihat dari Bumi pada tahun 2061. Selama itu, komet Halley tidak akan memasuki tata surya bagian dalam.

Komet Halley ditemukan pada tahun 1705 oleh Edmund Halley. Halley meramalkan orbit komet melalui pengamatan komet masa lalu.

Berdasarkan perhitungan dan catatan-catatan di masa lalu, Halley menunjukkan bahwa kemunculan komet ini sebenarnya sama semua.

Halley, komet yang paling terkenal—telah terlihat dan dikenal ribuan tahun lalu.

Dimensi komet Halley adalah 10 x 5 x 5 mil (16 x 8 x 8 kilometer). Ini adalah salah satu objek paling gelap, atau paling tidak reflektif, di tata surya, dengan albedo 0,03.

Sementara Eta Aquarids salah satu dari dua hujan meteor yang diciptakan oleh kepingan Komet Halley (1P Halley) di bulan Mei.

Kemudian Bumi melewati jalur Halley mengelilingi Matahari untuk kedua kalinya di bulan Oktober. Ini menciptakan hujan meteor Orionid, yang mencapai puncaknya sekitar 20 Oktober.

Eta Aquarids dikenal karena kecepatannya. Meteor-meteor ini bergerak dengan kecepatan sekitar 148.000 mph atau 66 km per detik ke atmosfer Bumi.

Halaman 3 dari 5
Sebelumnya12345Selanjutnya
Tags: AstrofotografiAstronomiGunung BromoJawa TimurKomet HalleyMeteorMeteor Eta Aquarids
Bagikan4Tweet2KirimKirim
Previous Post

Hujan Meteor Eta Aquarid Dari Gunung Bromo

Next Post

KM Sabuk Nusantara 91 Kandas di Perairan Sapeken, Jawa Timur

Postingan Terkait

KLHK dan IPB University Ujicoba Alat Pengukur Tinggi Gelombang

Dunia Menuju Kondisi Melampaui Ambang Batas 1,5°C

5 November 2026
Peringatan Hari Konservasi di Bontang Mangrove Park

Dana Adaptasi Iklim Belum Cukup di Tengah Pemanasan Global yang Melampaui 1,5°C

5 November 2026

Mengukur dan Memprediksi Perubahan Permukaan Laut

Komisi Oseanografi Terbitkan Kerangka Kerja Pengamatan Permukaan Laut Global

Kelompok Talin di Raja Ampat Kembangkan Potensi Kelapa Kampung

Dosen UNG Perkuat Kapasitas Teknologi Marikultur di Cina

Tsunami dan Titik Rawan Bencana Multi-bahaya Beruntun di Wilayah Pesisir Cincin Api Pasifik

Tsunami Dahsyat Dari Dekat Semenanjung Kamchatka Rusia

Next Post
KM Sabuk Nusantara 73 Layani Logistik di Maluku dan NTT

KM Sabuk Nusantara 91 Kandas di Perairan Sapeken, Jawa Timur

Komentar tentang post

TERBARU

Mengapa Anak Muda Selalu Kalah dalam Politik Gorontalo?

Dunia Menuju Kondisi Melampaui Ambang Batas 1,5°C

Dana Adaptasi Iklim Belum Cukup di Tengah Pemanasan Global yang Melampaui 1,5°C

Mengukur dan Memprediksi Perubahan Permukaan Laut

Komisi Oseanografi Terbitkan Kerangka Kerja Pengamatan Permukaan Laut Global

Kelompok Talin di Raja Ampat Kembangkan Potensi Kelapa Kampung

AmsiNews

REKOMENDASI

Apa Saja Produk Perusak Ozon

Harga Rumput Laut di Saumlaki Rp 20 Ribu per Kg

UNEP Menggunakan AI untuk Identifikasi Emisi Metana Dengan Cepat

Masyarakat Indonesia Belum Peduli Sampah

Pentingnya Pengelolaan Mineral Kritis untuk Mendukung Transisi Energi

Banjir dan Longsor di Manado, 9 Meninggal Dunia

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.