“Menghasilkan inovasi produk pangan, melalui berbagai teknologi proses pangan, untuk memberikan nilai tambah produk. Baik dalam segi karakteristik, nilai fungsional, umur simpan, maupun sosial, dan eknomi produk yang dihasilkan,” katanya.
Produk-produk yang dikembangkan, meliputi produk pangan konvensional, dengan memberikan beragam gizi dan kepuasan sensori, maupun produk pangan yang bermanfaat untuk kesehatan.
“Mengembangkan ingredient fungsional, yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan, dan diformulasikan dalam bentuk makanan berklaim. Peningkatan kualitas gizi bahan pangan, melalui fortifikasi dan biofortifikasi.”
Kepala Organisasi Riset (OR) Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu, mengatakan emisi gas yang ada di seluruh dunia, terutama oleh karbon dioksida sekitar 65 persen. Karbon dioksida yang dihasilkan, yaitu oleh bahan bakar atau industri sekitar 65 persen, metan 16 persen, penggunaan lahan dan hutan sebesar 11 persen, dan nitrous oxide 6 persen.
“Sedangkan, emisi gas rumah kaca pada sektor ekonomi, didominasi oleh produksi listrik dan panas sebesar 25 persen. Pertanian dan kehutanan 24 persen, industri 21 persen, transportasi 14 persen, energi lainnya 10 persen, dan bangunan 6 persen,” ujarnya.
Tahun 2015, penggunaan energi sangat bergantung pada fosil. Baik itu minyak, batubara, maupun gas. Indonesia, hampir 75 persen konsumsi energinya ada pada fosil, namun energi terbarukan hanya 9 persen.





Komentar tentang post