Dengan menjaga kota tetap sejuk, dan dapat mengurangi efek suhu panas perkotaan, menurunkan permintaan pendinginan, dan meningkatkan ketahanan warga terhadap panas ekstrem.
Saat ini, baru beberapa hari musim panas di belahan bumi utara. Namun kondisi ini itu sudah terbukti lebih terik. Gelombang panas menyelimuti negara-negara seperti Spanyol, India, Cina hingga Amerika Serikat.
Saat suhu agak panas, penduduk kota beralih ke pendingin udara agar tetap sejuk. Ironisnya: meluasnya penggunaan AC sebenarnya menaikkan suhu yang memicu krisis iklim.
Menurut Radka pada tahun 2050, jika kita melanjutkan lintasan yang sama, hampir 1.000 kota akan mengalami suhu tertinggi musim panas rata-rata sebesar 35˚C – hampir tiga kali lipat dari 350 kota yang sudah mengalaminya.
Populasi perkotaan yang terpapar suhu tinggi ini akan meningkat 800 persen, mencapai 1,6 miliar pada pertengahan abad ini, kata Radka.
Fakta yang terjadi sekarang ini, kata Radka, sebuah laporan menemukan bahwa di Dhaka, ibu kota Bangladesh, tekanan panas bertanggung jawab atas hilangnya sekitar 8 persen dari PDB kota.
Radka menawarkan solusi berbasis alam, seperti dengan menanam dan melestarikan area pohon dan hutan yang luas di dalam kota.
Dengan adanya areal pepohonan dapat mendinginkan lingkungan perkotaan secara signifikan serta menaungi jalan dan bangunan, meningkatkan pendinginan evaporatif, dan mengurangi suhu udara melalui transpirasi.





Komentar tentang post