Demikian pula dalam kesehatan. Senyawa dari mikroba laut dalam yang suatu hari menjadi obat, akan menjadi bukti nyata Samudra Jiwana. Dan ketika Indonesia ikut memimpin upaya pengurangan karbon laut global, Samudra Kala menemukan relevansinya.
Karena itu, mengenalkan Panca Samudra Nusantara ke ruang publik sama pentingnya dengan membangun laboratorium. Bahasa yang dekat akan melahirkan rasa memiliki. Tanpa dukungan masyarakat, sistem observasi terbaik pun mudah menjadi menara gading.
Sejarah menunjukkan, bangsa yang mampu menamai lautnya sendiri lebih mudah merawatnya. Panca Samudra Nusantara adalah langkah awal menata ingatan kolektif tentang kedalaman Indonesia, dari laboratorium kampus hingga warung kopi di pelabuhan.
Tentu perjalanan masih panjang. Lima misi nasional itu memerlukan kolaborasi lembaga riset, perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah. Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari cara kita berbicara tentangnya.
A’an mengatakan ketika terjadi perubahan iklim dan dinamika geopolitik samudra seperti saat ini, Indonesia memiliki kesempatan menjadi pengarah, bukan sekadar penonton.
Dengan menjadikan Panca Samudra Nusantara sebagai bahasa bersama, kita membuka jalan agar laut dalam tidak lagi sunyi, melainkan berbicara kepada bangsa yang hidup di atasnya.




