Bioremediasi, kata Agung, dapat menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan melalui penyemaian (seeding) dengan mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan penambahan mikroorganisme exogenous atau bioaugmentasi.
Dalam menangani limbah atau polutan melalui bioremediasi ini diharapkan dapat mereduksi bahan beracun dan berbahaya.
Untuk feeding, menurut Agung, dengan memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).
“Bioremediasi mencakup dunia mikrobiologi, tumpahan minyak dan bioremediasi hidrokarbon minyak bumi,” kata Agung, yang telah mempublikasikan sedikitnya 40 hasil penelitian di jurnal akademik internasional yang terindeks scopus.
Berkaitan dengan tumpahan minyak, Prof Agung, menyoroti yang terjadi Selat Malaka dan lokasi perairan lainnya di banyak tempat dari tahun 1967 hingga 2010.
Seperti di United Kingdom, Oman, Indonesia, Samudera Pasifik, Prancis, Karibia, Afrika Selatan. Kemudian di Spanyol, Royaume Uni (Shetland), Indonesia/Singapura/Malaysia, China dan Teluk Meksiko.
Di perairan Kepulauan Riau, tumpahan minyak banyak terpantau sejak 2018 hingga 2020, yang mencemari perairan dan pantai Bintan.
Ketua senat UMRAH, Dr Febrianti Lestari, mengatakan, pengukuhan guru besar ini yang pertama kali dilakukan di lingkungan senat UMRAH.





Komentar tentang post