Darilaut – Pulau Jawa sentra rajungan terbesar di Indonesia, sementara Provinsi Jawa Timur penghasil komoditas tertinggi di pulau Jawa.
Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan kebutuhan nelayan berupa kapal hybrid layar penangkap rajungan.
Penerapan teknologi kapal hybrid tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung keberlanjutan sektor perikanan tangkap, khususnya pada komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti rajungan.
Ketua Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI) Kuncoro Catur Nugroho menjelaskan pentingnya inovasi teknologi kapal bagi wilayah sentra produksi rajungan nasional.
“Kami sangat menantikan pemanfaatan hasil riset dan inovasi BRIN terkait kapal tangkap yang cepat, efisien dari segi operasional, serta menggunakan energi baru terbarukan,” ujar Kuncoro seperti dikutip dari Brin.go.id.
Dalam webinar Energi Manufaktur (ENMA) Edisi 03, pada Rabu (18/2), Kuncoro mengatakan membutuhkan kapal tangkap yang memiliki tempat penyimpanan dengan kapasitas yang memadai dan teknologi penyimpanan hasil ikan yang modern.
Senior Lecturer in Naval Architecture Newcastle University, Simon Benson, menyoroti masih banyaknya nelayan di dunia yang menggunakan kapal terbuka dan bertipe tradisional, dengan desain yang sangat dipengaruhi kondisi wilayah dan budaya sehingga aspek keselamatan pengguna perlu mendapat perhatian lebih.




