Darilaut – Gempa bumi sering terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). The United States of Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat mencatat sejak tahun 1950, 37 gempa bumi lain dengan magnitudo 6 atau lebih besar.
Termasuk di antaranya lima gempa bumi lain dengan magnitudo 7 atau lebih besar dalam radius 250 km dari lokasi gempa 15 Agustus 2026.
Pada tahun 1992, gempa bumi berkekuatan M 7,8 terjadi hanya 63 km di sebelah timur-tenggara lokasi gempa 15 Agustus 2026.
Gempa bumi tahun 1992 dan tsunami yang diakibatkannya menghancurkan puluhan ribu rumah serta menyebabkan setidaknya 2.500 korban jiwa, kata USGS.
Menurut USGS gempa bumi Laut Flores berkekuatan magnitude (M) 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi, terjadi di lepas pantai utara NTT akibat sesar naik (reverse faulting) pada kedalaman dangkal.
Gempa bumi dahsyat yang terjadi di dekat Ende tersebut, berlokasi di wilayah yang aktif secara seismik dan didominasi oleh konvergensi antara lempeng Australia dan lempeng Sunda.
USGS meyebutkan batas konvergen Sunda membentang sepanjang 5.600 km dari Teluk Benggala dan Laut Andaman—keduanya terletak di barat laut area peta—menuju Pulau Sumba di tenggara, lalu berlanjut ke arah timur sebagai sistem busur Banda.
Batas yang aktif secara tektonik ini terbentuk akibat konvergensi dan subduksi lempeng India dan Australia di bawah lempeng Sunda dengan kecepatan sekitar 50 hingga 70 mm per tahun.




