Persoalan lingkungan tidak sedinamis dan menarik dibanding persoalan lain seperti persoalan politik, hukum dan lainnya. Penanggungjawab untuk lingkungan kehabisan fakta, sumber dan ide tulisannya.
“Sebetulnya, ini lebih kepada kapasitas personal wartawan yang seharusnya terus berupaya untuk memperdalam pemahaman terhadap isu-isu yang terkat dengan lingkungan hidup. Ironisnya lagi, ketika tuntutan ekonomi untuk tidak dikatakan komersialisme media massa mendesak, maka pikiran pertama adalah mengambil ruang waktu yang seharusnya untuk lingkungan.”
Setelah kegiatan di Makassar, Haris Talamati (sekarang kepala Produksi RRI Jakarta) berpikir keras. RRI Gorontalo memberikan ruang untuk berbagai isu dan permasalahan lingkungan yang ada di Gorontalo.
Untuk menjembatani hal tersebut direncanakan untuk membuat pelatihan buat aktivis dan pegiat lingkungan di Gorontalo.
Pelatihan dan pembekalan teknik reportasi radio khusus lingkungan ini kerjasama Radio Republik Indonesia (RRI) Gorontalo bekerjasama dengan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Program Teluk Tomini Sustainable Coastal and Livelihoods Managemet (SUSCLAM) dan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda).
Pembekalan teknik reportase radio ini, untuk warga, Mahasiswa Pencinta Alam dan aktivis lingkungan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, pada 27 dan 28 Juli di RRI Gorontalo, dengan mengundang Direktur SIEJ IGG Maha Adi.





Komentar tentang post