Karena lama waktu yang ditempuh Bulan untuk menyelesaikan kedua periode tersebut berbeda, pada suatu saat Bulan akan berada pada fase bulan baru dan posisinya di apoge.
Sementara di saat yang lain Bulan akan berada pada fase purnama dan posisinya di perige. Demikian juga hal yang sebaliknya bisa terjadi.
Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan waktu saat Bulan pada fase tertentu dengan waktu saat posisi Bulan di perige atau apoge.
Namun bagaimana bila Bulan hilang dari pandangan maupun pengamatan dari Bumi dalam waktu yang lama, berbulan-bulan?
Kejadian yang tidak biasa ini membingungkan mereka yang hidup dan para astronom selama berabad-abad. Ada kepercayaan bahwa hilangnya bulan akibat dari gerhana.
Mengutip AccuWeather (20/4) kejadian seperti itu terjadi hampir satu milenium yang lalu. Ketika itu, Bulan menghilang dari pandangan selama bulan Mei di tahun 1110, dengan tidak ada alasan yang diberikan untuk fenomena aneh tersebut.
Hubungan antara Bumi, Bulan dan Matahari telah didokumentasikan sejak lama. Cahaya keemasan matahari yang menyambut umat manusia dan berfungsi sebagai fajar di pagi hari, sementara cahaya putih bulan mengirim umat manusia ke dalam tidur malamnya.
Astronom Inggris George Frederick Chambers menulis tentang misteri langit dalam bukunya tahun 1899 The Story of Eclipses.





Komentar tentang post