Kapal pinisi ini berlayar dari Makassar ke Jakarta. Kemudian, dari Jakarta melewati Bitung, Sangihe Talaud dan Filipina. Kapal pinisi mengambil posisi ke Honolulu (Hawaii), terus ke Vancouver dan San Diego Amerika Serikat. Pelayaran ditempuh selama 69 hari.
Menurut ahli kelautan Dr Anugerah Nontji (2009, 2017), mulanya rencana mengirim perahu layar tradisional ini ke Kanada banyak ditanggapi dengan sinis oleh berbagai kalangan. Banyak media yang menyebut pelayaran perahu Phinisi Nusantara ini bagaikan proyek melayarkan peti mati saja.

Terbukti kemudian, kata Nontji, perahu Phinisi Nusantara dapat mewujudkan rencana itu dengan gemilang, menepis segala keraguan.
Perahu Phinisi Nusantara dibuat perahu tradisional di Tanah Beru. Lebih dari 20 orang perajin terlibat dalam pembuatan perahu layar ini selama tiga bulan. Perahu layar ini berbobot mati 120 DWT (Dead Weight Ton), dengan panjang 37,5 meter dan lebar maksimum delapan meter.
Capt Gita sebagai nakhoda adalah perwira TNI-AL. Pada 1967, pernah melakukan pelayaran muhibah dengan KRI Dewa Rutji. Selanjutnya, tahun 1974, berlayar dari Keelung (Taiwan) menuju Tanjung Priok Jakarta dengan Yacht “Java Doll” milik atase Angkatan Laut, Kedutaan Amerika.
Pada 1986, Gita sebagai nakhoda “Phinisi Nusantara” untuk pelayaran dari Makassar-Tanjung Priok-Vancouver Expo/Kanada-San Diego Amerika.





Komentar tentang post