Jadi, manusia Gorontalo sebagian besar memiliki feeling (pongorasa) bagaimana menempatkan diri untuk mongoloto, mongotolo, mongotogo. Ia tahu bagaimana tidak buruk sangka pada hal yang tidak ketahui (apalagi jika hanya mendengar dari mulut orang lain). Ia tidak merasa diri dengan apa yang hanya dipinjamkan padanya, apakah itu jabatan, pengetahuan, gelar dan jabatan (bulo-buloto), hingga apalagi ia tidak akan merendahkan martabat orang lain, dalam pandangan matanya yang minimal itu.
Hikmah kurban adalah bulo-buloto (dipinjamkan), jika mulai ada perasaan motolo Wa’u atau Haku (merasa diri/merasa hak) maka akan mengalami tiga hal: oloto liyo (akan dipotongNya), otongo liyo (akan dibatasiNya) dan hingga meloto’o (tercebur/terjerembab/terhina).
Pada arah manakah manusia Gorontalo menuju? Semua akan menuju pilihan dan takdir masing-masing, tetapi yang kita harus berdoa dan berusaha agar tidak dijadikan contoh bagi manusia yang lain dalam oloto Liyo, otongo Liyo hingga popolotoiyo.




