Dalam kasus pembongkaran situs cagar budaya di Gorontalo, keadaan itu justru diperburuk oleh kurang pekanya pemerintah daerah dalam mempertahankan, merawat, dan melestarikan situs ingatan yang merekam perjalanan panjang perkembangan daerahnya sendiri. Alih-alih dirawat sebagai penanda perjalanan sejarah, situs semacam ini perlahan kehilangan tempat dalam kesadaran publik. Tidak dijamah sama sekali. Akibatnya jelas, yang runtuh dan memudar kemudian bukan hanya bangunannya, lebih besar lagi, juga ruang tempat masyarakat mengenali jejak dirinya di tengah arus perubahan zaman.
Di sinilah nilai sebuah cagar budaya menjadi penting. Bangunan bersejarah tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu, tapi juga menjembatani sejarah lokal dengan sejarah nasional. Melalui situs-situs semacam ini, generasi muda dapat memahami bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu kota, satu wilayah, atau satu pengalaman sejarah semata. Indonesia lahir dari perjumpaan banyak ingatan, banyak perjuangan, dan banyak kisah yang tumbuh di berbagai penjuru negeri, termasuk di Gorontalo.
Karena itu, jika sebuah situs bersejarah hilang, maka lenyap pulalah salah satu simpul yang menghubungkan ingatan lokal dengan sejarah kebangsaan. Dan jika simpul-simpul itu terurai satu demi satu, maka kita niscaya kehilangan sebagian cerita tentang diri kita sendiri.




