Pudarnya Ingatan Lokal dan Sejarah Kebangsaan
Eks rumah jawatan Kantor Pos dan Telegraf bukan sekadar bangunan yang berdiri di salah satu sudut Kota Gorontalo. Situs tersebut berada dalam konjungtur sejarah yang berkaitan dengan peristiwa 23 Januari 1942, ketika Nani Wartabone bersama para pemuda Gorontalo mengibarkan Merah Putih dan menyatakan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di daerah itu.
Peristiwa itu memiliki arti penting karena menunjukkan bahwa gagasan tentang Indonesia tidak lahir hanya dari pusat-pusat kekuasaan kolonial atau kota-kota besar yang selama ini mendominasi historiografi nasional. Di berbagai daerah, termasuk Gorontalo, semangat kebangsaan bertumbuh dari pengalaman yang khas, dari denyut kehidupan lokal yang kemudian menjelma menjadi bagian dari cita-cita bersama bernama Indonesia.
Malangnya, sejarah nasional kerap ditulis dari ‘kacamata pusat’. Sementara itu, banyak pengalaman daerah hadir sekadar sebagai catatan pinggir, dan justru di sanalah tersimpan warna-warni perjalanan bangsa. Sebagai konsekwensinya, situs-situs yang menyimpan memori lokal sering dipandang kurang penting dibandingkan situs-situs yang telah lama menempati panggung utama sejarah nasional. Padahal, sejarah bangsa tidak tersusun dari satu narasi besar yang tunggal. Sejarah bangsa bertumbuh dari serpihan-serpihan pengalaman lokal yang saling bertaut membentuk mozaik Indonesia.




