Kuda laut merupakan salah satu komoditas yang menguntungkan di pasar dalam negeri maupun luar negeri.
Akibatnya, populasi kuda laut menyusut. Ekspolitasi berlebihan ini kebanyakan dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional di Tiongkok.
Menurut peneliti di Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, LIPI, Dwi Eny Djoko Setyono, permintaan produk kuda laut cukup tinggi, baik dalam keadaan hidup untuk ikan hias akuarium dari negara-negara Eropa dan Amerika, maupun permintaan kuda laut mati sebagai bahan obat tradisional dari negara-negara Asia, khususnya China.
Asia merupakan konsumen kuda laut terbesar di dunia, yaitu mencapai 45 ton per tahun (≥ 16 juta ekor), dengan urutan tingkat konsumsi sebagai berikut: Cina 20 ton, Taiwan 11,2 ton dan Hongkong 10 ton.
Kajian ini ditulis Setyono di Jurnal Oseana, Volume 45, Nomor 1 Tahun 2020: 70-8, dengan judul “Karakteristik Biologi Kuda Laut (Hippocampus spp.) Sebagai Pengetahuan Dasar Budidaya.”
Permintaan yang tinggi menyebabkan penangkapan dilakukan secara intensif, sehingga mengakibatkan populasi kuda laut di alam menurun drastis.
Karena populasi di alam sudah menurun secara signifikan, pada Mei 2004 semua jenis kuda laut dimasukan dalam Appendix II, CITES (Convention for the International Trade in Endangered Species).





Komentar tentang post