Agar kebijakan ini benar-benar menyentuh akar, perlu ditambahkan satu pilar lagi yang seringkali terlupakan: pembiayaan yang berkeadilan. Pemerintah daerah perlu menyusun skema insentif untuk mendorong partisipasi pelaku ekonomi kecil dan komunitas marjinal. Ini bisa berupa subsidi stand bagi UMKM pemula, fasilitasi logistik bagi desa yang menjadi tuan rumah, hingga dukungan promosi digital bagi produk lokal. Tanpa intervensi semacam ini, event hanya akan dinikmati oleh mereka yang sudah siap dan kuat secara modal, sementara yang kecil tetap tertinggal di pinggir panggung.
Selain itu, dimensi keberlanjutan juga tidak boleh luput. Pemerintah perlu menyusun roadmap dampak jangka panjang dari setiap event, seperti penciptaan rute lari permanen yang bisa dimanfaatkan warga sepanjang tahun, pendampingan UMKM pasca-event, hingga integrasi kegiatan dengan kalender edukasi dan pelatihan masyarakat. Dengan demikian, setiap event tidak berhenti sebagai kegiatan satu-dua hari, tetapi memiliki ekor panjang yang terus memberi manfaat, bahkan saat banner dan panggung telah dibongkar.
Rangkaian kebijakan ini akan menempatkan event sebagai wahana rekayasa sosial dan pembangunan ekonomi rakyat yang utuh. Kegiatan lari bukan lagi hanya selebrasi, tetapi sistem yang hidup dan berakar. Sebuah sistem yang membuat kota dan desa berlari bersama—bukan untuk menghindari masalah, tetapi untuk meraih masa depan yang lebih adil, lestari, dan manusiawi.




