Pada saat yang sama, tingginya biaya politik membuat ruang kompetisi semakin sempit. Politik uang masih menjadi faktor penting dalam pilkada maupun pemilihan legislatif. Kandidat yang memiliki modal ekonomi besar, jaringan patronase kuat, dan akses terhadap elite partai memiliki peluang jauh lebih besar untuk menang dibanding kandidat yang hanya mengandalkan kapasitas, gagasan, dan kerja organisasi.
Karena itu, banyak anak muda yang berhasil masuk politik justru berasal dari keluarga pejabat, elite partai, atau pengusaha lokal. Regenerasi politik akhirnya lebih menyerupai reproduksi elite daripada pembukaan ruang politik yang meritokratis. Politik lokal terlihat mengalami pergantian generasi, tetapi struktur kekuasaan dasarnya tidak berubah.
Akan tetapi, kritik tidak dapat hanya diarahkan kepada partai politik dan elite lama.
Kaum muda sendiri juga harus dikritik secara terbuka. Selama ini terdapat kecenderungan bahwa sebagian anak muda hanya ingin menikmati simbol politik modern tanpa membangun kapasitas politik yang memadai.
Banyak anak muda aktif di media sosial, tetapi tidak aktif dalam organisasi. Banyak yang vokal dalam komentar politik digital, tetapi tidak memiliki pengalaman dalam kerja sosial, advokasi publik, atau pendidikan politik masyarakat. Politik dipahami sebatas ekspresi opini, bukan sebagai proses panjang membangun kapasitas, disiplin organisasi, dan konsolidasi sosial.




