Sebagian anak muda juga terjebak pada orientasi politik yang sangat pragmatis. Politik dilihat sebagai jalan cepat menuju popularitas, jabatan, atau akses ekonomi. Akibatnya, muncul kecenderungan mencari jalan pintas melalui kedekatan dengan elite lama, bergabung dalam patronase politik, atau mengandalkan popularitas media sosial tanpa membangun basis sosial yang kuat.
Kondisi ini menyebabkan banyak politisi muda gagal tampil sebagai alternatif yang benar-benar berbeda. Mereka hadir dengan usia yang lebih muda, tetapi membawa pola politik yang sama: pragmatis, transaksional, minim gagasan, dan sangat bergantung pada elite. Dalam konteks seperti ini, tidak mengherankan apabila publik muda sendiri sering tidak sepenuhnya percaya kepada politisi muda.
Masalah lain yang cukup serius adalah lemahnya tradisi intelektual dan gerakan sosial di kalangan anak muda. Ruang diskusi publik semakin sempit, organisasi kader melemah, dan aktivitas politik sering berhenti pada momentum pemilu. Akibatnya, regenerasi kepemimpinan tidak ditopang oleh proses pembentukan kapasitas politik yang matang.
Jika kondisi ini tidak dipersiapkan secara serius sejak sekarang, maka pola politik Gorontalo kemungkinan besar tidak akan banyak berubah pada masa mendatang. Pada peringatan 100 tahun Gorontalo tahun 2042 nanti, atau setelah tiga kali pemilu dan tiga kali pilkada berikutnya, sangat mungkin struktur politik tetap didominasi pola yang sama: elite lama tetap kuat, regenerasi berjalan terbatas, dan anak muda tetap berada di pinggiran kekuasaan.




