Struktur Politik Gorontalo
Pemilu 1955 memperlihatkan bahwa masyarakat Gorontalo telah mempunyai peta politiknya sendiri. Masyumi dan PSII menguasai hampir tiga perempat suara pemilih, sementara PNI dan NU melengkapi empat kekuatan utama. PKI berada jauh di belakang dengan 0,78 persen, bahkan di bawah Parkindo yang memperoleh 0,50 persen dan partai-partai lain dengan suara lebih kecil (Madjowa, 2015).
Komposisi tersebut penting karena memperlihatkan bahwa rendahnya suara PKI bukan berarti masyarakat Gorontalo tidak tertarik pada persoalan sosial dan ekonomi yang menjadi bagian dari agenda politik kiri. Persoalan petani, kemiskinan, ketimpangan, hubungan antara rakyat dan penguasa, serta tuntutan perbaikan kehidupan bukan monopoli satu ideologi. Partai-partai lain juga mempunyai bahasa politik untuk berbicara tentang kehidupan rakyat.
Dalam konteks ini, PKI menghadapi persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar memperkenalkan program. Ia harus memasuki ruang politik yang sudah memiliki aktor, simbol, otoritas, dan jaringan kepercayaan. Masyumi, PSII, NU, dan PNI tidak hadir hanya sebagai nama di surat suara. Di belakangnya terdapat tokoh, organisasi, hubungan sosial, dan pengalaman politik yang membuat masyarakat mempunyai cara sendiri untuk membaca siapa yang dianggap dekat dengan kehidupan mereka.


