Dalam masyarakat Gorontalo, hubungan kekerabatan mempunyai arti penting dalam kehidupan sosial. Ngala’a, marga, hubungan keluarga, dan jaringan antarkerabat bukan sekadar hubungan genealogis. Jaringan tersebut juga dapat menjadi jalur pertukaran informasi, pembentukan kepercayaan, dan penilaian terhadap seseorang atau sebuah kelompok.
Karena itu, politik tidak selalu bergerak melalui rapat partai, pidato kampanye, atau surat kabar. Informasi politik dapat bergerak melalui percakapan keluarga dan hubungan antarkerabat. Apa yang dibicarakan seseorang kepada saudaranya dapat menjadi bahan pembicaraan di keluarga lain; penilaian seorang tokoh dapat memperkuat atau melemahkan kepercayaan terhadap suatu kelompok.
Dalam kerangka seperti itu, persepsi negatif PKI di Gorontalo pada saat itu dapat dibaca sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah gagasan politik dikategorikan melalui bahasa sosial dan keagamaan masyarakat. Persepsi tersebut tidak perlu diperlakukan sebagai definisi akademik tentang komunisme, apalagi sebagai definisi resmi PKI. Ia lebih berguna untuk menunjukkan bagaimana komunisme dapat diberi makna tertentu ketika masuk ke dalam kerangka pemahaman masyarakat yang sangat memperhatikan hubungan manusia dengan Tuhan.
Persepsi lokal semacam itu menjadi penting bukan karena satu istilah dapat menjelaskan seluruh perilaku politik masyarakat. Artinya justru terlihat ketika istilah tersebut ditempatkan bersama agama, adat, kekerabatan, dan otoritas lokal. Sebuah gagasan politik dapat diterima atau ditolak bukan hanya berdasarkan programnya, melainkan juga berdasarkan makna yang diberikan oleh jaringan sosial tempat gagasan itu beredar.



