Perubahan itu membuat politik lokal tidak dapat lagi dibaca hanya melalui peta lama tentang agama, keluarga, atau organisasi. Jaringan tersebut masih penting, tetapi berhadapan dengan jaringan baru yang lebih luas dan lebih cepat. Keluarga mungkin masih menjadi sumber informasi, tetapi informasi yang masuk ke dalam keluarga kini berasal dari jauh lebih banyak tempat.
Di sinilah sejarah Pemilu 1955 menjadi relevan bagi politik hari ini. Rendahnya suara PKI di Gorontalo memperlihatkan bahwa kekuatan nasional sebuah partai tidak otomatis berubah menjadi kekuatan lokal. Sebuah ideologi dapat memiliki organisasi yang besar, program yang jelas, dan dukungan nasional, tetapi tetap kesulitan apabila tidak menemukan hubungan yang kuat dengan struktur sosial tempat ia beroperasi.
Sebaliknya, perubahan masyarakat juga berarti tidak ada struktur sosial yang dapat dianggap selamanya menentukan pilihan politik. Agama, adat, kekerabatan, dan tokoh lokal tetap mempunyai arti, tetapi pengaruhnya dapat berubah ketika masyarakat mengalami pendidikan, urbanisasi, mobilitas, perkembangan media, dan perubahan hubungan sosial.
Maka, pertanyaan “mengapa PKI tak laku di Gorontalo?” sebenarnya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sebuah masyarakat menerima, menolak, atau mengubah gagasan politik yang datang kepadanya? Jawabannya tidak cukup dicari dalam ideologi partai atau angka hasil pemilu saja. Ia harus dicari dalam hubungan antara ideologi, organisasi, agama, adat, keluarga, otoritas lokal, dan cara informasi bergerak di tengah masyarakat.



