Perubahan Pilihan Politik
Ada pelajaran yang lebih luas dari peristiwa 1955. Partai politik tidak pernah berhadapan langsung dengan individu yang sepenuhnya bebas dari pengaruh lingkungan sosial. Di antara partai dan pemilih selalu terdapat keluarga, kelompok agama, organisasi, tokoh masyarakat, pengalaman sejarah, media, dan jaringan pergaulan yang ikut membentuk cara seseorang melihat politik.
Pada masa Pemilu 1955, jaringan tersebut relatif kuat sebagai ruang pembentukan identitas politik. Itu terlihat dari terkonsentrasinya suara Gorontalo pada beberapa partai yang memiliki hubungan kuat dengan identitas dan organisasi sosial tertentu. Dalam perkembangan berikutnya, pola tersebut tidak berhenti berubah.
Pemilih modern semakin berhadapan dengan banyak sumber informasi. Hubungan dengan partai dapat dibentuk melalui keluarga, tetapi juga melalui sekolah, pekerjaan, organisasi, media massa, televisi, internet, media sosial, mobilitas penduduk, dan figur politik. Pilihan politik karena itu dapat berpindah lebih mudah dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.
Dalam kajian perbandingan politik, Roberts dan Wibbels (1999) menggunakan konsep electoral volatility untuk menjelaskan perubahan dukungan elektoral dari waktu ke waktu. Penelitian mereka mencakup 58 pemilihan legislatif dan 43 pemilihan presiden di 16 negara Amerika Latin pada dekade 1980-an dan 1990-an. Konsepnya membantu memahami bahwa hubungan antara pemilih dan partai tidak selalu bersifat permanen.



