Mangsa yang lewat dan menyentuh tentakel akan mengaktivasi nematosit untuk menusuk dan menyuntikkan toksinnya sehingga mangsa tersebut lumpuh. Mangsa yang telah terjebak dan lumpuh kemudian akan dibawa ke bagian gastrozooid untuk kemudian dicerna secara ekstraseluler.
Meskipun bersifat karnivora, ubur-ubur api bukanlah predator puncak (top predator). Ubur-ubur api memiliki beberapa pemangsa seperti penyu Tempayan (Careta careta), siput laut biru (Glaucus atlantica dan Glaucilla marginata), siput laut ungu (Janthina janthina), gurita (Tremoctopus), dan ikan Mola (Mola mola).
Siput laut biru dan siput laut ungu sama seperti ubur-ubur api yang bersifat pleustonik, sedangkan penyu tempayan, ikan mola dan Tremoctopus (gurita) bersifat pelagik.
Hewan-hewan tersebut memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan tentakel ubur-ubur api yang berbahaya.
Salah satu pemangsa ubur-ubur api yang menarik adalah siput laut biru. Hewan ini sering juga dijuluki sebagai “the blue dragon” karena memiliki warna tubuh biru dengan bentuk yang eksotis seolah seperti hewan mitologi naga.
Hewan dari keluarga Glaucidae tersebut merupakan kelompok siput laut tanpa cangkang (nudibranch) dan setidaknya ada dua jenis yang diketahui memangsa ubur-ubur api, yaitu Glaucus atlanticus dan Glaucilla marginata.





Komentar tentang post