Dipihak lain, rumah kecil Imran terasa ada kebahagiaan yang bercampuraduk dengan kecemasan, telah lahir seorang bayi laki-laki di tahun kematian yang disambut selamat datang oleh tanah dan sungai Nil. Yakobed yang telah melahirkan Nabi Musa, dengan berbagai strategi mengelabui petugas kematian untuk menyelamatkan bayi Nabi Musa.
Arahan melalui mimpi yang memberi bisikan: ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salahseorang) dari para rasul.’
‘Letakanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai(Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuhKu dan musuhnya’.
Sementara itu, melalui jalan takdir Ratu Asiyah beserta pemdampingnya menaiki perahu di sungai Nil, seketika haluan perahu bertabrakan dengan peti mati yang berisi bayi Nabi Musa yang menangis. Peti tersebut diangkat dari sungai dengan bayi berwajah cahaya yang belum pernah mereka lihat, wajah yang membuat setiap orang melihat jatuh hati padanya.
Di sisi lain, terjadi ketegangan yang mana bayi Musa yang telah tinggal di Istana menunggu keputusan raja Pare-Amon untuk tetap tinggal atau kematian. Namun, dengan pertimbangan tak ingin kehilangan kesempatan yang selama ini dinantikan kedekatan dengan Ratu tak pernah dia rasakan dan setelah melewati ujian bayi ini, dipelihara dalam istana.




