Lahirnya Siti Asiyah dari garis keturunan raja, membuat pernikahan ini dua kali disahkan. Oleh karena itu, singgasana dari emas milik Ratu Yesiyis di upacara penyerahan mahkota berdampingan sama tinggi dengan tahta milik suaminya Raja Ra.
“Tuhanku, terimalah aku dalam rumahMu, selamatkanlah aku dari kesendirian, jauhkanlah aku dari kesombongan para raja dan ratu terdahulu, bukakanlah hatiku kepadaMu. Takdirkanlah aku untuk menjadi tamu di rumahMu” terucap butiran-butiran doa dari bibir Aisyah
Mendidik Nabi Musa
Rumah tangga Raja Ra dengan Siti Asiyah tidak mendapat kebahagiaan. Raja senantiasa sibuk dengan urusan pemerintahan dan perluasan wilayah kekuasaan, sedangkan Asiyah berkurung diri di istana miliknya, Ra atau firaun yang kita kenal semakin menjadi-jadi bersama Haman penasehatnya berbuat dan berulah bahwa Ra mempunyai kekuasaan yang mutlak dan bahkan dinobatkan menjadi Tuhan.
Suatu malam pare-Amon bermimpi buruk yang mana seekor naga besar yang terang seterang sinar Matahari membakar seluruh negeri Mesir dari semburan api yang keluar dari mulutnya kecuali sungai Nil.
Dari hasil penafsiran mimpi yang akan terjadi malapetaka kepada raja Ra, maka diambil kesimpulan oleh Haman yang merangkap perdana Menteri dan kepala pendeta, dengan memusnahkan generasi bayi laki-laki Ibrani yang baru lahir sebagai pengorbanan kepada para Tuhan.




