Bayi ini dinamakan Musa karena menariknya dari air. Dari kecil hinga dewasa Siti Asiyah mendidik Nabi Musa bersama ibundanya yang juga menyesuinya dari kecil tentang nilai-nilai dan ahlak yang baik serta mengajarkan muwahidun (tauhid) ditengah kerusakan moral dibawah kepemimpinan Firaun.
Dengan kuasa Allah Nabi Musa terjaga sampai dewasa dengan segala macam peristiwa dan dinamika yang dialaminya. Tibalah saatnya menyampaikan risalah perintah Allah berdakwah bersama saudaranya Harun kepada rakyat Mesir dan kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melewati batas. Akan tetapi, bukan menerima ajakan Nabi Musa, Firaun bersama menterinya menolak kebenaran bahkan membunuh bagi orang beriman kepada Allah.
Pada saat itu, hati dan perasaan Asiyah tidak bisa menahan tentang kezaliman yang diperbuat Pare-Amon. Ia bertindak dan melawan di hadapan publik Mesir sampai di penjara oleh suaminya, Asiyah seperti Nil yang tak bisa diserang, tinggi seperti ombat besar. Firaun yang buta akan kebenaran menghukum Siti Asiyah dengan mengikat tangan dan kakinya, mereka membakar Siti Asiyah dalam tumpukan kayu yang tinggi di atas pasir panas. Sahidlah seorang Muslimah yang sejak kecil bertauhid kepada Allah dan berjuang bersama anak asuhnya Nabi Musa dari kezaliman Firaun.




