Disisi lain, khusus siswa perempuan yang menyadari bahwa mereka terlahir sebagai putri kerajaan dan kelak menjadi seorang penganting, sama sekali tak tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang diberikan. Akademi ini adalah tempat ujian yang akan menunjukan tugas yang cocok dan sesuai dengan kemampuan para siswa di masa depan.
Materi pelajaran seperti peta, teknik dan strategi peperangan yang diberikan di kelas-kelas lanjutan menguatkan kesan bahwa sekolah ini sebagai sekolah anak laki-laki. Para siswa mulanya diajarkan afabet Mesir dan menulis, lalu belajar cara berbicara, adat istiadat, pengetahuan puisi, peribahasa dan matematika. Seiring dengan waktu diajarkan pula logika serta simbol dan makna dalam sistem kasta dalam masyarakat Mesir, kode-kode peradaban berdasarkan pada keyakinan dan kepercayaan terhadap banyak Tuhan.
Ideologi dan pengetahuan diterapkan dengan pola pikir kepada anak-anak dengan pelaksanan hari-hari raya suci dan upacara hari raya. Oleh sebab itu, hampir tiga hari dalam seminggu selalu diadakan upacara suci di akademi kerajaan Mesir. Upacara-upacara ini mengenang kegemilangan masa lalu yang mengintasi zaman. Zaman adalah Tuan yang tidak tampak yang paling mereka hormati. Perayaan hari raya, dupa yang dibakar, dengan pakaian mencolok semuanya untuk memberkati zaman.




