Tahun-tahun berganti dengan cepat seperti aliran air sungai Nil yang berada di depan istana, sepuluh tahun telah berlalu adalah waktu yang sungguh lama dan sulit untuk dilupakan dan disembunyikan. Apa yang badannnya semakin bungkuk karena menanggung kesedihan dan luka dihatinya menjadi seorang kakek bagi anak-anak. Apa merupakan guru yang handal diantara para guru, tak berbahaya bagi istana dan tidak dicurigai oleh para pendeta Memphis.
Apa telah menempati janji kepada tuannya Akhen, kapan saja tangan abdi buta ini bersentuhan dengan anak-anak pilihan yang berjumlah empat anak ini, dia merasakan aura biru yang bergerak diujung jemarinya, meski dia tak bisa melihat, hati guru tua itu terbagi menjadi empat mata naluri untuk empat anak yang berada di hatinya. Anak pertama, Yes berumur lima belas tahun selalu memaksanya untuk mendendangkan salah satu lagu Ilahi yang terlarang, memperingatkannya dengan panggilan Asiyah, mengisyaratkan untuk diam. Aisyah muda tahu selalu berhati-hati ketika Apa memangilnya dengan ucapan Asiyah bukan Yes.
Kecantikan Asiyah sama dengan kecantikan ibunya yang membahana ke seluruh tanah Mesir, tubuhnya langsing, kulitnya putih dan menjulang tinggi diantara perempuan Mesir. Kerendahan hati dan kedermawanannya membuat orang-orang yang mengenalnya semakin mempesona. Seolah, tak satupun tidak terpersona dengan putri berhati emas, yang dipandang sebagai ratu masa depan di antara anak-anak kerajaan.




