Pengurus harem yang senantiasa peduli kepada Hajar mengantarkan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim di perbatasan wilayah kerajaan Utara mengamanahkan Hajar kepada Nabi Ibrahim.
Hijrah Bersama Nabi Ibrahim AS
Setelah meninggalkan kerajaan Utara, Sarah, Nabi Ibrahim dan kaumnya, senantiasa berpindah-pindah satu tempat ke tempat yang lain. Mereka hidup nomaden dengan mendirikan tenda setiap petang tiba, melipatnya kembali setelah matahari terbit dengan semangat membara untuk berjalan dan terus berjalan.
Inilah takdir yang telah dititahkan bagi mereka, kehidupan yang harus mereka luangkan dalam perjalanan sebagai perintah Ilahi, kehidupan berat seperti ini dianggap biasa karena setiap hari mereka menjalaninya. Setiap orang yang baiat kepada Nabi Ibrahim dapat menjalankan kehidupan teratur, harmonis, saling membantu dan melayani dari anak-anak sampai yang lanjut usia (lansia).
Di sepanjang perjalanan selain Nabi Ibrahim dan istrinya Sarah yang menjadi panutan semua orang dalam rombongan, ada Nabi Luth (saat itu belum menjadi Nabi) beserta istrinya yang masih muda.
Mereka adalah sosok paling dihormati dan disegani. Nabi Luth yang merupakan keponakan Nabi Ibrahim AS yang disayangi dan dibanggakan.
Hampir setiap kali singgah di suatu tempat, semakin banyak kaum mengikuti ajaran dan menjadi mukmin, kebanyakan akan ikut perjalanan bersama Nabi Ibrahim. Sampai akhirnya, jumlah rombongan cukup banyak, Nabi Luth ditugaskan menetap di Kota Sodom dan Gomora.




