Keadaan sunyi senyap. Perasaan Siti Hajar bercampur dengan rasa sedih, pedih ditinggalkan oleh sang kekasih yang dicintainya, yang membimbing dari remaja sampai menikah dan dikaruniai seorang anak. Ditinggalkan sendirian di padang pasir tanpa ada penghuni.
Dalam renungannya, mungkinkah jerih payah menyeberangi hamparan gurun pasir, melewati tepi lautan pasir pada kerelaaan hati? Saat itulah ia menyadari bagaikan sebuah pulau kecil di tengah-tengah lautan. sebuah pulau batu kecil yang berada di tengah lautan takdir, takdir kepedihan, titah yang telah digariskan sebagai Hajar sebagai batu hitam yang kelam oleh linangan air mata, sungguh tidak sia-sia Ia diberi nama Hajar (batu).
Sungguh, dalam hamparan gurun pasir yang gersang tak berpenghuni hanya ada ibu dan anak tersayang tinggal di antara dua bukit. Ismail menangis kehausan, Siti Hajar bangkit segera berbuat sesuatu.
Berlari dengan semangat ke arah perbukitan, siapa tahu di sana mendapatkan air. Duhai Allah, tunjukanlah jalan bagiku demi kasih sayangMu terhadap bayi yang tak berdosa ini, perkenankanlah Engkau memberikan barang seteguk air kepada kami, Tunjukanlah jalan kepadaku untuk mendapatkannya.
Ibunda Hajar dengan nafas terengah-engah berlari mencapai puncak bukit. Namun, Ketika melihat di sekiliing dan dari ketinggian bukit, sama sekali tidak mendapatkan pertanda adanya orang atau air.




