Transisi reflektif muncul, yakni narasi historis yang administratif dan parsial telah meninggalkan gap memori pada masyarakat kontemporer. Dokumentasi administratif seperti Verslag van de afdeeling Gorontalo 1845 (Wijnmalen, 1880) mencatat penduduk, hasil bumi, dan kontrol sosial, tetapi nyaris tak menyinggung strategi bertahan dari bencana. Ketika memori sosial tidak diinternalisasi, maka respons terhadap ancaman modern cenderung instingtif dan improvisatif. Humor digital hari ini adalah cermin keterputusan itu: masyarakat menghadapi risiko dengan tawa karena sistem formal tidak hadir dalam kesadaran keseharian.
Data modern memperkuat pola berulang ini. Katalog Tsunami Indonesia dan kajian seismik (Manyoe dkk., 2019) menegaskan bahwa Gorontalo berada di zona kompleks pertemuan sesar lokal dan regional, termasuk Palu-Koro dan Gorontalo Fault. Gempa besar 1968 di barat laut Sulawesi menandai kelanjutan tekanan tektonik, disusul seri aktivitas 1990-an, gempa Laut Sulawesi 2008 (M7,7), hingga gempa M6,3 pada 24 Juli 2025. Sejarah dan sains berbicara selaras: gempa dan tsunami adalah bagian dari ritme wilayah ini. Yang berbeda hanyalah cara kita mengingat dan meresponsnya, dan hal ini memperlihatkan bahwa catatan tentang masyarakat sudah tersedia, tapi bencana tidak menjadi bagian cerita kolektif yang hidup.




