Dalam dinamika ini ada social amplification of risk (Kasperson dkk.), yaitu bagaimana informasi atau sinyal awal tentang bahaya bisa diperbesar atau diperkecil oleh jaringan sosial dan media. Di Gorontalo, rantai pesan WhatsApp yang tidak terverifikasi mempercepat amplifikasi yakni kabar “tsunami datang” berputar lebih luas daripada klarifikasi pencabutan, sementara humor menjadi semacam “penyangga”, memoderasi kecemasan sekaligus mereduksi urgensi, sehingga risiko substansial menjadi paradoksal: terasa besar namun tidak ditanggapi dengan struktur. Ini menciptakan medan di mana outrage melayang tidak tertambat ke prospek solusi nyata.
Ada juga dimensi meaning-focused coping yang muncul terselubung: dengan mengubah ancaman menjadi cerita lokal (“naik bukit cari sinyal”, “kita sambut tsunami dengan lomba lari”), masyarakat membentuk ulang narasi sehingga risiko diinternalisasi sebagai bagian dari pengalaman kolektif yang bisa dituturkan. Ini membuka celah: humor bisa menjadi pintu masuk komunikasi risiko yang efektif jika dibingkai ulang—sebagai “meme kesiapsiagaan” yang menghubungkan tawa dengan tindakan—daripada hanya sebagai pelampiasan emosional.
Namun, tidak semua coping adaptif. Jika humor menutup ruang diskusi serius, menunda evakuasi, atau menciptakan ilusi aman palsu, ia berubah menjadi mekanisme maladaptif yang memperbesar kerentanan ketika ancaman nyata datang. Di sinilah peran institusi dengan mengakui keberadaan humor kolektif sebagai ekspresi sosial, lalu menggabungkannya dalam strategi komunikasi risiko, misalnya dengan menggunakan gaya lokal, menjadikan cerita historis tentang gempa dan tsunami yang pernah terjadi di Gorontalo sebagai bahan edukasi yang bisa “dibercandakan sekaligus diresapi”, sehingga jarak sinis itu berubah menjadi keterlibatan reflektif.




