Lalu saya bertanya dalam hati,
“Apa arti semua ini buat kita?”
Di tengah keheningan, muncul rasa lain: bangga. Maaf jika saya menyebutnya demikian, namun saya tak bisa menyebut mereka hanya sebagai “mahasiswa”.
Bagi saya, mereka adalah pembawa obor pengetahuan. Mereka adalah gambaran paling tulus dari semangat belajar yang tak kenal batas dan tidak memilih zona nyaman.
Anak-anak ini, kini saya menyebut mereka teladan. Mereka adalah wajah dari mahasiswa Geologi yang kita banggakan: penuh dedikasi, cerdas, dan tangguh menerobos batas-batas kebodohan yang kita lawan bersama dalam dunia akademik.
Kemarin, ketika saya memberi kuliah kepada teman-teman seangkatan mereka, saya menyampaikan:
“Belajar bukan sekadar hadir di kelas atau membaca buku. Belajar adalah kesiapan untuk menghadapi risiko, keberanian untuk menantang kenyataan, dan ketulusan untuk menyerahkan hasil akhir kepada Sang Pencipta.”
Hari ini, kami tidak hanya berduka, kami juga belajar.
Belajar dari pengabdian, dari keteguhan, dari keberanian mereka.
Selamat jalan, Sri Magfirah Mamonto; Alfateha Ahdania Ahmadi; Regina Malaka.
Kami bangga padamu. Kami belajar darimu. Kami mencintai kalian meski tak pernah sempat saling menyapa.
Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, apalagi yang ditempuh dalam semangat ilmu dan pengabdian.




