Berat kantong tintanya sendiri berkisar antara 6,3 persen sampai 10,6 persen dari berat tubuh cumi-cumi.
Tinta cumi-cumi maupun tinta sotong mengandung melanin, protein, lemak, glikosaminoglikan dan asam amino esensial berupa lisin, leusin, arginin, dan fenilalanin.
Berdasarkan asal usul biosintesisnya dibagi menjadi empat kelompok yaitu: alkaloid, fenilpropanoid, poliketida dan terpenoid.
Tinta cumi-cumi bersifat alkaloid, sehingga tidak disukai oleh predator, terutama ikan.
Alkaloid merupakan kelompok terbesar dari metabolit sekunder yang beratom nitrogen dan bersifat basa.
Beberapa jenis alkaloid memiliki manfaat dalam pengobatan antara lain sebagai antiinflamasi, antihipertensi, antidiare, antidiabetes, antimikroba dan antimalaria, tetapi beberapa senyawa golongan alkaloid bersifat racun.
Selain itu tinta cumi-cumi ini mengandung butir-butir melanin atau pigmen hitam.
Melanin alami adalah melanoprotein yang mengandung 10-15 persen protein, sehingga menjadi salah satu sumber protein yang sama baiknya dengan kandungan protein pada daging.
Sumber:
Bambang Sudjoko, Cumi-cumi (Cephalopoda, Moluska) Sebagai Salah Satu Bahan Makanan Dari Laut,
Oseana, Volume XIII, Nomor 3 : 97 – 107, 1988.
Diah Anggraini Wulandari, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan judul “Peranan Cumi-Cumi Bagi Kesehatan.” Jurnal Oseana, Volume XLIII, Nomor 3 Tahun 2018: 52 – 60.





Komentar tentang post