Teks pesan darurat bisa berupa kode bahaya dan identitas yang meliputi nama kapal. Selain itu, pelabuhan asal dan nomor telepon yang bisa dihubungi, serta informasi lain yang sebelumnya diprogram ke dalam perangkat.
Wakatobi AIS dirancang dapat terkoneksi ke sistem pemantauan lalulintas kapal (VTS) yang biasa terdapat pada pelabuhan-pelabuhan dan otoritas pelayaran.
Alat ini dapat terbaca oleh perangkat AIS pada kapal non perikanan, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kapal nelayan akibat kapal besar. Sekaligus meningkatkan jangkauan penggunaan alat, kendati alat ini dioperasikan di luar dari jangkauan stasiun darat seperti VTS.
Dengan dikembangkannya Wakatobi AIS, diharapkan kecelakaan laut yang sering terjadi di seluruh Indonesia seperti kapal hanyut, nelayan hilang atau kapal tenggelam yang kerap dialami nelayan kecil pencari tuna dapat dihindari.
Pada Rabu (10/10), di Jembrana Bali, setelah melakukan dialog dengan nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meluncurkan teknologi perikanan yang dikembangkan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM). Teknologi ini diberi nama Wakatobi AIS dan Aplikasi Laut Nusantara.
Menteri Susi mengatakan, temuan ini sangat bermanfaat bagi nelayan. Sudah seharusnya hasil riset tidak hanya dibiarkan diam di komputer masing-masing peneliti.





Komentar tentang post