Penelitian dilanjutkan lagi untuk mengkaji perbedaan konsentrasi ekstrak mangrove dalam pakan baik untuk penanggulang penyakit bakteri maupun untuk WSSV di tahun 2016.
Terjadi peningkatan sistem imun udang secara signifikan pada penggunaan ekstrak mangrove dalam pakan, dibanding tidak menggunakan ekstrak mangrove. Pencegahan WSSV menggunakan ekstrak mangrove lebih efektif melalui penyuntikan, dibanding dengan pakan dan perendaman. Namun metode ini sulit diaplikasikan di tambak dan hanya cocok diaplikasikan untuk induk udang saja.
Penelitian selanjutnya, di 2017, dengan mengkaji sistem ekstraksi melalui perebusan daun mangrove yang masih basah dan tidak lagi menggunakan hasil tepung daun mangrove. Melalui metode ini, telah diaplikasikan pada budidaya udang windu di tambak.
Penelitian ini difokuskan pada aplikasinya di tambak udang. Melalui penelitian ini diharapkan kelestarian mangrove tetap terjaga dan terus dilakukan upaya penanam kembali mangrove.
Sebagai tumbuhan di pesisir, mangrove sangat rentan hilang akibat berbagai aktivitas. Terdapat beberapa model usaha tambak dengan tetap mempertahankan keberadaan mangrove. Seperti model sylvo-fishery.
Model ini merupakan pengembangan tambak yang ramah lingkungan dengan perpaduan hutan (sylvo) dan budidaya perikanan (fishery). Model penghijauan tambak ini tak hanya bermanfaat bagi lingkungan. Efek model tumpang sari ini dapat membuahkan nilai ekonomi.





Komentar tentang post