Oleh: Dr. Funco Tanipu (Sosiolog, Founder The Gorontalo Insitute)
Sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah ruang hidup yang membentuk orientasi rumah, bahasa, sistem pertanian, hingga nilai-nilai spiritual. Di berbagai wilayah, sungai memiliki peran identitas yang kuat.
Setiap 27 Juli, bangsa ini memperingati Hari Sungai Nasional. Penetapan ini berasal dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.407/MENLHK/SETJEN/PLA.0/7/2015. Seharusnya ini menjadi momen reflektif sekaligus strategis untuk menakar sejauh mana kita benar-benar menjaga urat nadi peradaban: sungai.
Tema Hari Sungai tahun ini adalah “Sungai Kita, Hidup Kita”. Tema ini menjelaskan bahwa kalimat tersebut bukan saja soal seruan nasional, tetapi adalah alarm nasional bahwa sungai adalah sumber kehidupan manusia Indonesia yang telah membangun sejarah peradaban hingga spiritualitas kita.
Tema ini menarik, tetapi jika kaitkan dengan melihat persoalan kompleks tentang sungai, maka tema ini menjadi tidak relevan dan bahkan utopis. Sebab, kita tahu bersama bahwa sungai-sungai makin hari makin kehilangan daya dukung ekologisnya. Sungai-sungai besar di Indonesia kini tercemar, kacau tata ruangnya, dan bahkan dikuasai segelintir korporasi. Ironi ini seharusnya menjadi alaram nasional untuk membangkitkan kesadaran bersama. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia berada dalam kondisi rusak atau kritis.




