Temperatur musiman yang lebih tinggi, kejadian panas ekstrem, dan kekeringan menjadikan penyimpanan, pemrosesan, pengangkutan, dan penjualan makanan dengan aman menjadi lebih sulit, yang seringkali menyebabkan sejumlah besar makanan terbuang atau hilang.
Karena kehilangan dan limbah makanan menghasilkan hingga 10 persen emisi gas rumah kaca global – hampir lima kali lipat total emisi dibandingkan sektor penerbangan – maka pengurangan emisi dari limbah makanan sangatlah penting, menurut pakar UNEP.
Menurut laporan tersebut, kemitraan pemerintah-swasta untuk mengurangi limbah makanan dan dampaknya terhadap tekanan iklim dan air, menjadi perhatian pemerintah di semua tingkatan.
Contohnya adalah Jepang dan Inggris yang masing-masing mengalami pengurangan sebesar 18 persen dan 31 persen, yang menunjukkan bahwa perubahan dalam skala besar mungkin terjadi jika makanan dijatah dengan benar.




