Selanjutnya, data diolah secara automatic dan hasilnya akan disebarkan ke receiver yang ada di stakeholder atau melalui mobile apps, receiver ini juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mall), dan area pemukiman dan perkantoran.
Uji coba pembangunan sistem ini di-launching oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Duta Besar China dan dari Institute of Care Life of China, pada 15 Agustus 2019 dengan pemasangan 10 unit sensor EEWS di wilayah Banten yang bertujuan untuk monitoring gempa bumi di wilayah Megathrust selatan Jawa.
Tahap selanjutnya, akan dipasang 190 unit sensor yang akan berkonsentrasi di wilayah potensi gempabumi yaitu Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Banten. Bilamana ujicoba ini berhasil maka akan dikembangkan secara masif di seluruh wilayah Indonesia.
Wilayah Indonesia merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Banda, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua. Sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa, kondisi fisiografi wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.
Ketiga lempeng tektonik tersebut saling bertumbukan, mengakibatkan wilayah Indonesia memiliki lebih dari 16 segmen megathrust dan lebih dari 295 sesar aktif, sehingga menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan paling rawan gempa dan tsunami di dunia.*





Komentar tentang post