Frekuensi haplotipe A dan C pada seluruh sampel dari dua lokasi hutan dan pantai yaitu masing-masing 0,40 dan 0,06 sedangkan frekuensi haplotipe D, F, G adalah 0,06 dan frekuensi haplotipe B dan E 0,13. Diversitas genetik (π) intron satu gen RDP sepanjang 807bp adalah 0,0037- 0,013 dan yang tertinggi diidentifikasi dari habitat maleo asal hutan yaitu 0,013.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah haplotipe dan diversitas nucleotide terbesar terdapat pada lokasi maleo asal hutan. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah ini memungkinkan terjadinya penyebaran burung maleo dari lokasi lain, sehingga aliran gen antarpopulasi terjadi dengan teratur.
Kondisi tersebut berbeda dengan individu sampel asal pantai yang memiliki jumlah haplotipe
dan diversitas nukleotide yang rendah. Rendahnya diversitas nukleotide dan jumlah haplotipe
mengindikasikan tingkat perkawinan silang antar individu yang memiliki haplotipe berbeda sangat rendah sebagai akibat adanya isolasi geografis.
Aplikasi sifat genetik dalam konservasi merupakan ilmu yang masih muda dan masih perlu
terus dikembangkan. Langkah awal adalah mengidentifikasi unit-unit konservasi, dalam rangka membantu membuat suatu kebijakan pelestarian satwa langka dengan tetap memelihara keragaman genetik yang ada.





Komentar tentang post