“Tak ada lagi sambungan telepon. Kami bingung dan panik. Bagaimana keluarga kami,” kata Ody.
Abdi yang paling galau. Karena tempat tinggalnya, rumah tua yang rawan runtuh.
Setengah jam kemudian, para jurnalis ini memutuskan kembali ke Palu. “Kami harus menemui keluarga dan mengirim berita,” kata Abdy.
Perjalanan kembali ke arah Kota Palu tidak mudah. Mereka melewati puing-puing bangunan yang berserakan, jalanan yang rusak. Pikiran kacau mengingat nasib keluarga masing-masing.
Saat itu, kondisi sudah gelap. Para jurnalis terus bergerak.
Sampai di Kelurahan Mamboro, melihat seorang ibu yang terjepit reruntuhan bangunan. “Kami berhenti dan membawanya ke tempat aman, tampaknya ada tulang yang patah,” ujar Ody.
Mobil yang dikendarai para jurnalis ini sempat terjebak di Kelurahan Layana. Jalan tertutup. Mereka terpaksa berhenti dan menunggu.
Beberapa jam kemudian, ada iring-iringan kendaraan Brimob melintas, yang membuka akses jalan tersebut. Akhirnya, sekitar pukul 23.00 Wita, para jurnalis ini tiba di Kota Palu.
Di Palu, Abdy menghadapi kenyataan keluarganya telah mengungsi. Ketika bertemu, hanya ada istri dan anak pertama. Anak kedua bernama Andra, hilang dengan posisi terakhir yang diketahui berenang di Hotel Golden Palu yang kena tsunami.
Hingga pagi, mereka mencari Andra. Setelah hampir putus asa, pulang melihat kondisi rumah. Tak lama, Andra muncul.





Komentar tentang post