Ragam tanggomo termasuk jenis sastra lisan Gorontalo yang menarik bagi masyarakat dari dulu sampai sekarang.
Isi tanggomo ini dianggap berita dalam bahasa bersajak yang disampaikan di pasar, rumah dan acara hajatan.
Pencerita atau tukang tanggomo, berasal dari berbagai latar belakang, mulai petani, pedagang atau nelayan. Hidup mereka sangat lekat dengan sastra lisan.
Tanggomo berarti “Tampung”. Ditambahkan “Mo” di depannya, yakni “Mo Tanggomo” menjadi kata kerja aktif yang berarti “Menampung dengan tangan menadah ke atas”.
Tanggomo sangat dekat dengan kegiatan bercerita, orang yang menampung cerita itu kemudian disebut “Ta Motanggomo” atau tukang tanggomo.
Ta Motanggomo yang paling populer di Gorontalo adalah maestro tanggomo asal Tapa, Bone Bolango Manuli Askali atau Teme Sahala, dan Risno Ahaya.
Sebelum disampaikan pada khalayak banyak, cerita yang tertampung itu digubah menjadi untaian kata berima.
Panjang Tanggomo beragam, bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan baris. Setiap baris berkisar antara tujuh sampai 12 suku kata.
Seperti halnya cerita Kasimu Motoro. Banyak anggapan kisah Kasimu Motoro nyata dan pernah terjadi di Gorontalo, tempo dulu.

Kasimu Motoro
Kasimu Motoro bukanlah kendaraan sepeda motor. Ini nama seseorang dengan panggilan “Toro”.





Komentar tentang post