ALDFG yang jatuh hingga ke dasar laut juga dapat membahayakan terumbu karang dan merusak kawasan dasar laut. Sementara ALDFG yang mengambang di permukaan laut juga dapat membahayakan manusia ataupun kapal-kapal yang berlayar.
ALDFG yang terbawa arus juga dapat mengotori kawasan pesisir dengan material sampah plastik.
Terkait hal ini, menurut Basilio, hasil workshop diharapkan dapat mendukung implementasi rencana aksi mengenai penanganan sampah laut di tingkat nasional maupun regional.
“Penanganan sampah laut yang berasal dari ALDFG perlu dilakukan secara sistematis, terukur dan terintegrasi,” katanya.
Secara teknis, pemerintah RI yang berasal dari KKP, Kemlu dan KLHK, perwakilan FAO dan LSM akan menyusun draft petunjuk penanganan ALDFG berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan oleh berbagai negara. Hasil tersebut menurut Asdep Basilio akan dijadikan bahan masukan ke FAO atau sumber rujukan bagi negara peserta workshop.
Kepala Subdit Restorasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sapta Putra Ginting mengatakan, pemerintah melalui KKP sebelumnya telah membuat proyek percontohan bekerja sama dengan Global Gear Inisiative untuk menangani ALDFG.
“Sejak tahun 2017, kita sudah membuat proyek bersama dengan NGO Global Gear di Sadang Jawa Tengah untuk meneliti pemanfaatan ALDFG melalui skema circular economy,” ujarnya.





Komentar tentang post