Transisi Energi menjadi salah satu langkah yang saat ini sangat penting dan cukup krusial untuk menurunkan emisi dari sektor Energi, meskipun saat jni situasi berbagai peristiwa global menyangkut interaksi dan konfigurasi sumberdaya energi yang dirasakan tidak mudah dan cukup kompleks.
Menurut Siti sektor energi sedang memacu keras penurunan emisi gas rumah kaca dengan strategi mencapai NZE (Net Zero Emission) yaitu elektrifikasi, moratorium Pembangkit Listrik Tengara Uap (PLTU), membangun sumber energi baru dan EBT (energi baru dan terbarukan) serta penerapan efisiensi energi.
Dalam target pengurangan emisi nasional menjadi 31,89% dengan kapasitas nasional, dan mencapai 43,2% dengan dukungan kerja sama luar negeri, diproyeksikan penurunan emisi karbon dalam Enhance Nationally Determined Contribution (ENDC) dapat diperoleh dari sektor kehutanan (17,4-25,4%) dan dari sektor energi sebesar (12,5-15,5%).
Dari pembahasan bersama sektor Keuangan, maka untuk ini diperlukan energy transition mechanism.
Penyiapan Enegry Transition Mechanism (ETM) sesuai dengan rencana pembangunan energi nasional dan Nationally Determined Contributions (NDC) untuk melakukan transisi pembangkit listrik yang tinggi karbon dalam skala besar dan secara bertahap dapat mencapai pemenuhan dengan pembangkit energi terbarukan.




